Sri Lestari Wartawan BBC Indonesia
- 27 Oktober 2015
Dampak ekonomi akibat
kebakaran hutan dan lahan di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp200
trilliun, melebihi kerugian pada tahun 1997, padahal jumlah lahan yang terbakar
jauh lebih sedikit.
Peneliti Center for
International Forestry Research (CIFOR), Herry Purnomo, menjelaskan hitungannya
itu didasarkan pada angka kerugian pada tahun 1997 ditambah dengan kerugian
yang dialami Malaysia dan Singapura.
“Musim kemarau lebih
panjang dan asap lebih luar biasa daripada tahun 1997-1998 kalau saya tambah
US$9 miliar plus kerugian yang ada di Singapura dan Malaysia masing -masing
US$2 miliar, jadi US$13 miliar, ditambah faktor seperti angka inflasi, jadi
bisa bervariasi antara US$14 miliar hingga US$20 miliar, tergantung angka
inflasi yang kita terapkan,” jelas Herry
Herry menjelaskan
perhitungan tersebut masih sangat kasar dilihat dari kerugian ekonomi, tanaman
yang terbakar, air yang tercemar, emisi, korban jiwa dan juga penerbangan.
Kabut asap yang
membuat jarak pandang terbatas menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan.
Image copyright AP Image caption Kabut
asap mencapai Malaysia, Singapura , Filipina Selatan dan Thailand.
Garuda Indonesia
menyebutkan potensi kerugian yang dialami sampai Oktober ini mencapai US$8 juta
atau Rp109 miliar, seperti disampaikan oleh juru bicaranya Benny Butar Butar.
“Total sampai 25
Oktober 1.600 penerbangan batal. Itu kita hitung semuanya ya, masih terus
berjalan penghitungannya, karena masih terjadi,” jelas Benny.
- Aktivitas ekonomi terganggu
Kabut asap yang
terjadi di enam provinsi juga menganggu aktivitas perdagangan dan ekonomi
masyarakat, seperti yang dialami Hendi seorang penjual pempek, makanan khas
Palembang, yang mengeluhkan berkurangnya penjualan akibat kabut asap.
"Ya fifty-fifty
ya sudah beberapa bulan ini ya karena pembeli kurang mereka lebih suka di
rumah, tapi bisa juga lebih parah karena dampak ekonomi juga,” jelas Hendi.
Sementara Purwo Hadi
Subroto, petani di Riau, mengaku produksi tanaman pangan dan sayuran di
ladangnya menurun sampai 40% karena proses produksi tanaman yang mengandalkan
sinar matahari terhalang kabut asap, meski antisipasi telah dilakukan.
“Embung kita siapkan,
tetapi ini kemarau yang parah, embung disiapkan, pakai terpal dan pembuatan
sumur bor, dan ketiga pemakaian pupuk organik, tetapi masih turun produksinya,
sampai 40%, ” jelas Purwo.
Minimnya cahaya
matahari, menurut Purwo, menyebabkan banyak tanaman tidak menghasilkan buah,
bahkan untuk padi sama sekali tidak dapat ditanam karena kondisi tanah yang
keras.
Image copyright Getty Image caption Petugas
melakukan pemadaman hutan di Kalimantan Tengah.
“Musim kemarau dan
air yang kurang menyebabkan tanah mengeras, ditambah kebakaran hutan jadi
semakin parah,” jelas Purwo.
- Kebakaran diperkirakan berlangsung lama
Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan total lahan yang terbakar di Sumatra
dan Kalimantan mencapai 1,7 juta hektar dengan titik api sekitar 1.800 pada
Minggu (25/10) , jauh lebih kecil dibandingkan pada tahun 1997 yaitu 9,7 juta
hektar.
Tetapi dampak
kebakaran hutan ini lebih luas karena pengaruh El Nino yang panjang.
Juru bicara BNPB
Sutopo Purwo Nugroho mengatakan biaya untuk pemadaman juga diperkirakan akan
lebih besar dibandingkan pada 2014 lalu.
"Biaya untuk
pemadaman pada tahun 2014 itu kita melakukan pemadaman bukan hanya Riau tetapi
enam provinsi karena sifatnya pencegahan jadi ada api sedikit langsung
dipadamkan, biayanya sekitar 620 milliar," jelas Sutopo.
Image copyright AFP Image caption Upaya
pemadaman kebakaran hutan dan lahan sulit dilakukan.
BNPB sudah
menganggarkan Rp385 miliar untuk pemadaman lahan dan hutan yang terbakar.
Sekitar 22 ribu petugas diterjunkan untuk memadamkan kebakaran hutan.
Peneliti CIFOR Herry
Purnomo memperkirakan jumlah kerugian ekonomi kemungkinan akan lebih besar
karena, bencana kebakaran hutan masih terus terjadi di enam provinsi dan bahkan
menyebar ke Papua dan Sulawesi.
Dampak regional juga
lebih meluas karena kabut asap juga mencapai Filipina dan Thailand, selain Singapura dan Malaysia.
sumber: www.bbc.com









0 komentar:
Posting Komentar