This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

bintang

Jumat, 06 November 2015

Serba-Serbi Pelepasan Mahasiswa PPK di SMP Negeri 14 Ambon




Kamis, 29 Oktober 2015

Kebakaran Hutan dan Lahan Indonesia Bisa Samai Insiden 1997




Luas dan dampak ekonomi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi di Indonesia amat mungkin menyamai skala insiden serupa pada 1997, menurut peneliti.
Melalui pemantauannya, Robert Field menilai kebakaran lahan dan hutan yang melanda Indonesia tahun ini sangat parah.
Field, seorang peneliti Universitas Columbia yang melakukan kajian di Goddard Institute for Space Studies milik Badan Antariksa Amerika Serikat, bahkan yakin bahwa situasi di Indonesia bisa bertambah sulit apabila musim kemarau terus berlanjut akibat fenomena El Nino.
“Kondisi di Singapura dan Sumatra bagian tenggara berada jalur mendekati 1997. Jika perkiraan cuaca musim kemarau berlangsung lebih lama, bisa dianggap bahwa 2015 akan tercatat sebagai kejadian terparah dalam rekor,” kata Field sebagaimana dikutip kantor berita AFP.
Dalam kurun 1997-1998, pemerintah Indonesia memperkirakan jumlah lahan yang terpapar kebakaran mencapai 750.000 hektare.
Namun, berbagai lembaga lingkungan hidup seperti Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) mengestimasi jumlahnya mencapai 13 juta hektare. Kemudian kajian yang dilakoni Badan Perencanaan Pembangunan Nasional bersama Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan jumlah lahan yang terdampak akibat kebakaran mencapai 9,75 juta hektare.
Soal dampak ekonomi, jumlah estimasinya beragam. Economy and Environment Programme for Southeast Asia memprediksi Indonesia dirugikan US$5 miliar hingga US$6 miliar akibat kebakaran hutan dan lahan pada 1997-1998.
Lalu, studi Bappenas dan ADB mencatat kerugian mencapai US$4,861 atau setara dengan Rp711 triliun.


Kerugian ekonomi Indonesia akibat kebakaran dan asap pada 1997 berkisar antara US$4 miliar hingga US$9 miliar.
Ketahanan ekosistem
Herry Purnomo, peneliti lembaga Center for International Forestry Research (CIFOR), juga berpendapat kebakaran lahan dan hutan tahun ini dapat menyamai rekor pada 1997.
“Fenomena El Nino tahun ini sedikit lebih kecil dibandingkan dengan 1997. Namun, ketahanan ekosistem kita lebih rentan terhadap kebakaran karena hutan kita sudah didegradasi oleh hutan tanaman industri dan sawit,” kata Herry kepada wartawan BBC Indonesia, Jerome Wirawan.
Herry tidak menutup kemungkinan bahwa dampak ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan tahun ini bisa menyamai catatan 1997.
“Satu provinsi saja bisa kehilangan Rp20 triliun akibat kebakaran. Nah, sekarang sudah ada sedikitnya lima provinsi yang terkena imbas parah, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah,” ujar Herry.
Menurutnya, nilai kerugian tidak hanya dihitung semata-mata oleh kayu yang hilang dilalap api. “Ada aktivitas ekonomi yang terganggu, kesehatan masyarakat yang terdampak, air yang rusak, transportasi, dan lain-lain,” kata Herry.
Dalam wawancara dengan BBC Indonesia, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan dampak ekonomi akibat bencana kabut asap yang terjadi di beberapa provinsi di Indonesia pada 2015 bisa melebihi Rp20 triliun.
Angka itu, menurutnya, didasarkan pada data tahun lalu.
Terungkap bahwa kerugian akibat kabut asap 2014 yang dihitung selama tiga bulan dari Februari sampai April hanya dari Provinsi Riau mencapai Rp20 triliun.

sumber: www.bbc.com

Dampak kabut asap diperkirakan capai Rp 200 trilliun



Sri Lestari Wartawan BBC Indonesia
  • 27 Oktober 2015

Dampak ekonomi akibat kebakaran hutan dan lahan di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari Rp200 trilliun, melebihi kerugian pada tahun 1997, padahal jumlah lahan yang terbakar jauh lebih sedikit.
Peneliti Center for International Forestry Research (CIFOR), Herry Purnomo, menjelaskan hitungannya itu didasarkan pada angka kerugian pada tahun 1997 ditambah dengan kerugian yang dialami Malaysia dan Singapura.
“Musim kemarau lebih panjang dan asap lebih luar biasa daripada tahun 1997-1998 kalau saya tambah US$9 miliar plus kerugian yang ada di Singapura dan Malaysia masing -masing US$2 miliar, jadi US$13 miliar, ditambah faktor seperti angka inflasi, jadi bisa bervariasi antara US$14 miliar hingga US$20 miliar, tergantung angka inflasi yang kita terapkan,” jelas Herry
Herry menjelaskan perhitungan tersebut masih sangat kasar dilihat dari kerugian ekonomi, tanaman yang terbakar, air yang tercemar, emisi, korban jiwa dan juga penerbangan.
Kabut asap yang membuat jarak pandang terbatas menyebabkan ribuan penerbangan dibatalkan.
Image copyright AP Image caption Kabut asap mencapai Malaysia, Singapura , Filipina Selatan dan Thailand.
Garuda Indonesia menyebutkan potensi kerugian yang dialami sampai Oktober ini mencapai US$8 juta atau Rp109 miliar, seperti disampaikan oleh juru bicaranya Benny Butar Butar.
“Total sampai 25 Oktober 1.600 penerbangan batal. Itu kita hitung semuanya ya, masih terus berjalan penghitungannya, karena masih terjadi,” jelas Benny.


  • Aktivitas ekonomi terganggu

Kabut asap yang terjadi di enam provinsi juga menganggu aktivitas perdagangan dan ekonomi masyarakat, seperti yang dialami Hendi seorang penjual pempek, makanan khas Palembang, yang mengeluhkan berkurangnya penjualan akibat kabut asap.
"Ya fifty-fifty ya sudah beberapa bulan ini ya karena pembeli kurang mereka lebih suka di rumah, tapi bisa juga lebih parah karena dampak ekonomi juga,” jelas Hendi.
Sementara Purwo Hadi Subroto, petani di Riau, mengaku produksi tanaman pangan dan sayuran di ladangnya menurun sampai 40% karena proses produksi tanaman yang mengandalkan sinar matahari terhalang kabut asap, meski antisipasi telah dilakukan.
“Embung kita siapkan, tetapi ini kemarau yang parah, embung disiapkan, pakai terpal dan pembuatan sumur bor, dan ketiga pemakaian pupuk organik, tetapi masih turun produksinya, sampai 40%, ” jelas Purwo.
Minimnya cahaya matahari, menurut Purwo, menyebabkan banyak tanaman tidak menghasilkan buah, bahkan untuk padi sama sekali tidak dapat ditanam karena kondisi tanah yang keras.
Image copyright Getty Image caption Petugas melakukan pemadaman hutan di Kalimantan Tengah.
“Musim kemarau dan air yang kurang menyebabkan tanah mengeras, ditambah kebakaran hutan jadi semakin parah,” jelas Purwo.


  • Kebakaran diperkirakan berlangsung lama

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan total lahan yang terbakar di Sumatra dan Kalimantan mencapai 1,7 juta hektar dengan titik api sekitar 1.800 pada Minggu (25/10) , jauh lebih kecil dibandingkan pada tahun 1997 yaitu 9,7 juta hektar.
Tetapi dampak kebakaran hutan ini lebih luas karena pengaruh El Nino yang panjang.
Juru bicara BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan biaya untuk pemadaman juga diperkirakan akan lebih besar dibandingkan pada 2014 lalu.
"Biaya untuk pemadaman pada tahun 2014 itu kita melakukan pemadaman bukan hanya Riau tetapi enam provinsi karena sifatnya pencegahan jadi ada api sedikit langsung dipadamkan, biayanya sekitar 620 milliar," jelas Sutopo.
Image copyright AFP Image caption Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan sulit dilakukan.
BNPB sudah menganggarkan Rp385 miliar untuk pemadaman lahan dan hutan yang terbakar. Sekitar 22 ribu petugas diterjunkan untuk memadamkan kebakaran hutan.
Peneliti CIFOR Herry Purnomo memperkirakan jumlah kerugian ekonomi kemungkinan akan lebih besar karena, bencana kebakaran hutan masih terus terjadi di enam provinsi dan bahkan menyebar ke Papua dan Sulawesi.
Dampak regional juga lebih meluas karena kabut asap juga mencapai Filipina dan Thailand, selain Singapura dan Malaysia.
sumber: www.bbc.com

Selasa, 27 Oktober 2015

SOAL TURNAMEN ANTAR KELOMPOK


Hai para siswa dan siswi SMP N 14 Ambon khususnya untuk kelas VIII-15.
Apa kabarnya hari ini ? semoga selalu sehat yaaa.
Oh iya sebelumnya saya ingin mengucapkan selamat kepada Ketua dan pengurus OSIS beserta para seksi-seksi 7K periode 2015 - 2016, semoga kalian bisa menjadi sosok-sosok yang menghidupkan aktivitas yang sifatnya berpacu pada prestasi IMTAQ.

Pada postingan perdana saya ini, terdapat beberapa file yang nantinya menjadi tugas individu namun dengan cara penilaian kelompok. Maksudnya ialah tugas ini dikerjakan bedasarkan kelompoknya masing-masing, namun setiap anggota kelompok akan dimintai pertanggung jawaban atas hasil kerjanya dan saya akan memilih siswa untuk memaparkan hasil kerjanya secara acak.

Berikut tugas dari masing-masing kelompok:





Saya perlu ingatkan kembali bahwa hasil kerja kalian semua akan mempengaruhi skor pada Klasemen pada pembelajaran Matematika kita di kelas.

Ok, saya kira cukup sekian dulu postingan saya hari ini, Good luck yaaa siswa-siswi kelas VIII-15.

you're is the best student
luvne.com tipscantiknya.com ayeey.com cicicookies.com mbepp.com kumpulanrumusnya.com.com